[FlashFiction] Wanitaku

WARNING: 18+

Aku tetap setia menunggu wanitaku di ujung gang kecil tepat di depan rumah kaca tempatnya berdiri saat ini. Dia terlihat dari balik rumah kaca bak boneka dari balik etalase toko busana. Tubuhnya yang putih mulus seperti manekin yang mengenakan baju berwarna cerah dan gemerlap. Hanya saja, sebagian saja dari tubuhnya yang tertutup tak rapat oleh kain berwarna kuning menyala itu. Dada dan pahanya terlihat sempurna oleh setiap mata yang sedang menelanjangi tubuhnya dengan bebas.

Tak lama kulihat seorang pria botak dan berkumis tebal meraba setiap jengkal bagian tubuhnya. Mulut dan tangan pria itu bekerja kooperatif. Mulutnya mendarat tepat di atas dada, dan kedua tangannya telah bebas menjamah selangkangan wanitaku.

Kulihat mereka berdua berjalan beriringan ke dalam kamar.

Saat seperti itu yang selalu membuat dadaku semakin panas, saat wanitaku sudah berjalan ke dalam kamar bersama pria lain. Mereka pasti bercumbu. Ah, bukan. Wanitaku selalu menjadi budak nafsu para pria yang tak pernah puas dengan istri mereka di rumah. Pria yang selalu memberikan siksaan atas nama kepuasan nafsu yang mereka inginkan.


Aku ingin murka.

Tanpa terasa anak panah di alrojiku bergeser di angka 11 malam. Wanitaku berjalan terseok menghampiriku.

“Kenapa kau masih disini? Aku sudah menyuruhmu pulang dari tadi?”

Pipinya merah. Ada tanda hisapan bibir di sekujur dada dan lengannya. Ya, tubuhnya berantakan. Bahkan, dia menemuiku tanpa menggunakan kembali kutangnya.

“Seharusnya bisa menolak jika pria itu berlaku kasar padamu.”

“Mereka ladang uangku. Tugasku hanya melayani apapun yang mereka mau.”

“Uang? Sudah berapa kali aku katakan, biarkan aku yang menanggung hidupmu!”

“Sudahlah! Tak pantas kau mengasihani aku. Pulanglah.”

Aku ingin menggenggam tangan dan memeluknya, memilikinya selamanya. Sebuah gejolak bathin yang selalu berperang atas nama cinta.

“Maya!”

Wanitaku berpaling dariku tanpa mengucapkan satu kata lagi. Langkahnya menjadi riang saat menghampiri pria tua itu. Aku tahu, pria tua itu adalah langganan rutinnya. Mungkin 4 kali dalam seminggu dia selalu datang meminta cinta pada wanitaku. Pria tua yang selalu memberinya uang berkali lipat dari pria lainnya meski perlakuan kasar selalu dia berikan. Ladang uang, katanya.

***

Suara gagang pintu membangunkanku yang tak sengaja terlelap di kursi ruang tamu. Tepat pukul 3 pagi, wanitaku pulang! Dengan mata menyipit kulihat dia berjalan ke kamarnya dengan tertatih. Pintunya dibiarkan terbuka. Tak lama suara tangis kudengar dengan lirih.

Aku melihatnya. Tidur tengkurap di atas kasur. Tangisnya tak berhenti.

“Apa yang sudah pria tua itu lakukan kepadamu?”

“Sudahlah.”

“Sampai kapan kau akan hidup seperti ini?”

“Bukan urusanmu!”

“Ini jelas urusanku. Kau tanggung jawabku! Tolong hentikan semua ini. Sampai kapan kau mau menjual tubuhmu?”

Aku murka. Tangisnya semakin pecah. Perang mulut seperti ini sudah sering terjadi. Hanya saja, dia tak pernah menuruti apa mauku. Dia bertindak seolah tak menganggapku ada di rumahnya.

“Aku ingin uang!”

“Uang? Uang. Uang dan uang yang selalu kau katakan. Aku bisa memberimu uang sebanyak yang kau mau!”

“Tak pantas jika aku harus menerima uangmu.” Jawabnya ketus.

“Aku tak rela melihatmu selalu tersika seperti ini. Jika mereka memperlakukanmu dengan halus, mungkin aku akan sedikit terima. Tapi pria-pria itu selalu berbuat kasar kepadamu. Lihatlah tubuhmu! Mereka pasti menyetubuhimu dengan brutal. Aku juga tak yakin benda apa saja yang sudah masuk ke lubang vaginamu.”

Aku menekan nada bicaraku saat melihat tangisnya semakin kencang. Aku menghentikan omelanku dan memeluknya. Aku merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada wanitaku.

***

Dari balik selimut merah di kamarnya aku mengamati wajahnya yang sungguh sayu. Ada goresan urat lelah di wajanya yang kian menua. Wajah yang dulu selalu ceria saat menimangku. Aku membelai mata lalu turun ke bibirnya. Masih membekas rasa cinta yang telah aku berikan padanya subuh tadi. Aku mengecup bibirnya. Matanya membuka.

“Sudah bangun?”

Dia tersenyum. Sungguh manis. Kemudian aku mulai dengan kembali berada di atas tubuhnya. Kucumbu dia dengan penuh cinta. Kubelai seluruh tubunya yang penuh lebam dengan lembut. Rasa cinta seperti ini yang seharusnya dia dapatkan. Bibir kami berpagut, lidah kami saling beradu. Lama. Desahan lembut dari bibirnya semakin membuatku bergelora. Sebentar lagi kami akan mengulang cinta subuh tadi.

“Ahhh, cukup.”

“Kenapa? Aku akan memberimu cinta yang selama ini tak kau dapatkan. Saat ini dan seterusnya, kau adalah wanitaku. Jadilah milikku selamanya.”

Aku kembali menjelajahi lehernya yang jenjang dengan lidahku. Kusampukan jemariku pada rambutnya yang seharum mawar. Wanitaku bergeming.

“Tapi hubungan kita terlarang...”

***
- 692 kata -

45 comments:

  1. DUh saya gak bisa loh bikin yang begini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga bikinnya sampe megap2 mbak, miskin info soalnya >.<

      Delete
  2. tutup mata....tutup mata! :D

    tapi masih bertanya-tanya nih, apa sebab si perempuan menolak si lelaki (atau perempuan?) itu? Sebab ada berkali-kali ujaran 'sudah tidak pantas' diucapkan. Artinya dulu pantas? Latar belakang cerita ini yang masih teramat 'gelap' buatku.
    Good story, anyway. :)

    ReplyDelete
  3. nice story, sungguh pergulatan batin yang luar biasa.

    ReplyDelete
  4. aduh ya, jenk ayu ini, 4 jempol deh buat tulisannya..

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. Rasa-rasanya karena itu hubungan antara ibu dan anak angkatnya begitu...?

      Delete
  6. bagus tulisannya neng. btw boleh minta email reko gk idnnya hehehe :D

    ReplyDelete
  7. “Tapi hubungan kita terlarang...”

    Wiih..... Adegan dewasa!

    Mbak, aku boleh minta email rekomendasi ke idn? :D

    ReplyDelete
  8. Rahasianya ada di kalimat : "Wajah yang dulu selalu ceria saat menimangku." :)

    ReplyDelete
  9. Replies
    1. sssttt.. jangan kenceng2 banyak anak kecil.

      Delete
  10. Rahasianya ada di kalimat : "Wajah yang dulu selalu ceria saat menimangku." Berarti hubungan antara anak dan ibunya?

    Keren.. twist ending

    ReplyDelete
  11. Kipas2...
    belum bisa buat genre yg kaya gini :D

    ReplyDelete
  12. Wuow... hot.. hot... kipas-kipas? *Ini pada jualan jagung bakar y* :D

    ReplyDelete
  13. Mantaf kasih jempol dah

    ReplyDelete
  14. ibu dan anak? ngeriiiii... Naudzubillah..

    ReplyDelete
  15. Astagfirullah kenapa aku bisa masuk sini ya.

    #Tutup mata. Kabur...

    Masih di bawah umur.

    Heheheeee...

    ReplyDelete
  16. "Wajah yang dulu selalu ceria saat menimangku"
    Ini kayak kisah sangkuriang ya?

    keren ceritanya...

    ReplyDelete
  17. bagus ceritanya..
    ampe merinding bacanya

    ReplyDelete
  18. Keren Yu, walaupun ada yg sedikit mengganjal, karena menurutku ber-aku kamu dengan orang tua sendiri masih belum terlalu lazim di kita..

    ReplyDelete
  19. Kalo jari papah jempol semua tak kasih semua jempol buat tulisan kamu yu...
    Selamat2 sekali lagi, baru liat tulisan kamu yg berani seperti ini yu,
    Papah berasa muda lagi nih haaaa..

    ReplyDelete
  20. Mom 'n Son? Waw, ganas FF-nya! Plus-plus! Kerennya plus, twist-nya juga plus. Mantap!

    ReplyDelete
  21. what? paragrap akhir-akhirnya...berani. Salut bisa menuliskan dengan lepas.

    Etapi, sptnya pernh ada true story hubungan terlarang di di TV. Mksd saya wawancara dgn pelakunya lgsn..

    ReplyDelete
  22. huaaa.. aku belum cukup umur buat baca kayak gini..
    ahaha :D

    nice story kk :)

    ReplyDelete
  23. blogwalking~! ^^

    wii ayuc nii jagoo bgt ternyata bikin cerita dewasa. baruu tau. :D
    bagus yuuc. lanjutkan!! kekekekee...

    ReplyDelete
  24. whihihi *ngumpet* *masihdibawahumur* :P
    keren nih mbak, masih rajin bikin ff.. :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^