Sakralnya Tanah Lot

Salah satu pura di Alas Kedaton
Salah satu pura di Alas Kedaton
Hari ke empat bulan madu, kami memutuskan untuk mengunjungi alas kedaton dan Tanah Lot sepulang dari Bali Trick Art Museum. Sempat eyel-eyelan soal alas kedaton karena jarak yang lumayan dari Tanah Lot. Akhirnya suami mengalah dan pergi ke alas kedaton terlebih dulu karena saya ingin melihat ribuan monyet secara bebas.

Budaya Antre

Budaya antre di Indonesia rasanya belum begitu bisa diterapkan secara disiplin oleh banyak orang dari golongan mana pun padahal hampir disetiap lini kegiatan yang kita lakukan selalu berhubungan dengan yang namanya antre. Sebut saja antre saat membeli tiket nonton di bioskop atau sekedar membeli makanan siap saji di restoran. Budaya antre yang selama ini ditanamkan oleh para guru di sekolah masih saya pegang teguh hingga sekarang. Sebisa mungkin, walaupun dalam kondisi terdesak, saya akan tetap berada dalam jalur antrean dengan segala kesabaran yang saya punya. Ditambah dengan segala macam organisasi yang pernah saya ikuti selalu menekankan rasa disiplin yang super tinggi termasuk antre untuk menghargai orang lain yang bersedia sabar untuk menunggu giliran.

Tapi memang tidak semua orang mau berpikir demikian, mereka pasti mampu untuk menerapkan budaya antre tapi belum tentu mau bukan? Ada dua hal menyebalkan yang saya alami baru-baru ini saat mengikuti arus mudik seperti halnya perantau. Dalam kondisi seperti inilah biasanya kesabaran diuji dengan sangat ekstra. Jumlah orang yang sangat banyak, mengantre hanya pada dua atau tiga baris saja. Biasanya yang terjadi adalah serobot menyerobot satu sama lain. Orang yang acuh akan mendiamkannya, sedang yang peduli atau tidak terima pasti akan menegur. Termasuk saya, hehe. Masalah pertama terjadi saat saya mengantre di stasiun Sidoarjo untuk membatalkan tiket kereta api tujuan Bandung untuk kembali ke Cikarang. Sayangnya, loket pembatalan kereta api digabung dengan pemesanan tiket kereta api eksekutif dan hanya dilayani oleh satu orang saja. Saat itu mungkin ada 15 orang yang mengantre termasuk saya, berdiri dan kepanasan. Setelah satu jam, akhirnya langkah saya maju beberapa langkah hingga tinggal 6 orang di depan saya. Ada seorang ibu yang nyerobot masuk tanpa mengantre untuk membatalkan tiket yang akan berangkat dalam satu jam ke depan, dan ibu tersebut dilayani oleh petugas loket. Spontan saya yang dekat dengan meja loket protes kepada si embak petugas loket dan dia berkata, “kereta ibunya mau berangkat satu jam lagi mbak dan mau dibatalkan”. Toleransi? Okelah ya, satu dua orang bisa toleransi dengan kondisi ibu itu yang tiba-tiba datang minta pembatalan. Kalau mau ikut aturan yang harus ikut prosedur, antre dulu. Kalau tidak bisa dibatalkan karena tenggat waktu ya itu resiko.

Laptop Baru

Laptop Asus
Laptop baru, Asus
Musim lebaran biasanya masyarakat heboh untuk memperbaharui segala hal yang berhubungan dengan dirinya. Yang paling umum dilakukan adalah membeli baju baru khusus untuk lebaran, membeli baju baju pun tidak sekedar baju baru saja. Biasanya ada banyak printilan yang diikutsertakan saat membeli baju baru, yaitu sandal atau sepatu baru, perhiasan baru, potongan rambut baru. Kalau yang di rumah biasanya kan memperbaharui tampilan rumah agar menjadi lebih indah dengan mengecat ulang, membersihkan kursi dan karpet atau bahkan membeli kursi dan karpet baru. Untungnya, saya tidak pernah mengikuti aliran pembaharuan seperti itu. Paling mentok ya beli membelikan untuk orang rumah, sedangkan saya tidak perlu membeli ini itu baru karena sudah terlalu sering belanja, haha. Tahun ini pun sama, saya dan suami tidak membeli baju baru karena sebulan sebelumnya sudah membeli baju yang bahkan sudah dipakai terlebih dahulu. Tapi ada tiga hal baru yang saya dapatkan di bulan Ramadhan tahun ini. Pertama, suami, meskipun sudah 3 bulan menikah tapi rasanya tetap berbeda karena menjalankan puasa Ramadhan bersama suami, lebih tepatnya sih saya menemani suami yang sedang puasa Ramadhan sedang si mas menemani saya makan siang, hehe.

Mengobati Biduran

biduran
sumber gambar
Cerita mengobati biduran saat mudik lebaran. Baru sehari sampai di Surabaya, sudah terasa sekali perbedaan cuaca dengan Sampit yang cenderung panas tanpa angin. Mungkin juga karena efek gunung raung, makanya angin yang berhembus lebih kencang dari biasanya dan udara pun lebih dingin dari biasanya. Otomatis saya syok dengan cuaca Surabaya saat itu karena sudah terbiasa dengan panasnya Cikarang yang sama dengan Sampit. Hebohnya, saya sampai terkena biduran di sekujur tubuh hingga kepala karena tak kuasa menahan penrubahan cuaca. Sehari sebelumnya, si mas malah sampai tepar karena cuaca Surabaya yang memang belum bisa bersahabat. Ceritanya, suami dan adik ipar saya pergi ke Hitech Mall untuk membeli laptop dan printer, harusnya suami pergi dengan saya tapi karena patuh dengan kata dokter maka saya tetap tidur manis di kasur.

[Review] Aplikasi Boci Trace Alphabet

Aplikasi Boci Trace Alphabet
Aplikasi Boci Trace Alphabet
Beberapa hari lalu saya mulai mencari beberapa aplikasi di android untuk calon anak yang masih ada di dalam perut. Mungkin terlalu dini, tapi saya memang ingin belajar menjadi seorang ibu sedari dini agar bekal nanti semakin banyak. Perhatian saya tertuju pada aplikasi Boci Trace Alphabet karena pelajaran awal memang seharusnya dimulai dengan pengenalan huruf. Saya pun mengunduh aplikasi tersebut dan mencoba memainkannya layaknya anak umur 2 tahun, hehe.

Selamat Lebaran

Jumat, menjadi hari spesial jatuhnya lebaran idul fitri, hari spesial untuk seluruh umat muslim yang ada di dunia ini. Setelah menjalani tiga puluh hari penuh puasa wajib Ramadhan, hari lebaran semakin terasa lebih istimewa dan bermakna. Sedikit berbeda rasanya jika kita menyambut hari raya Idul Fitri tanpa melalui puasa Ramadhan, seperti saya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak menjalankan puasa Ramadhan sesuai dengan anjuran dokter karena saat kontrol sebelum saya berangkat ke Sampit, beliau berkata kandungan saya cukup lemah sehingga saya harus mengonsumsi banyak nutrisi khususnya minum air karena saya memang punya riwayat gampang terkena dehidrasi. Jadi, jika ditotal, saya hanya menjalankan puasa sebanyak empat hari saja. Sedih rasanya, tapi setelah konsultasi ke beberapa pihak pun berkata sama, ada keringanan untuk ibu hamil jika tidak bisa berpuasa apalagi usia kehamilan saat itu baru 4 minggu.

Mau bagaimana lagi, pengennya kandungan dan calon janin sehat sehingga memberikan yang terbaik dengan nutrisi yang paling baik. Saat usg terakhir di Sampit pun dokter berkata keputusan saya memang yang terbaik untuk tidak berpuasa karena kondisi kandungan memang cukup lemah dan akan berakibat buruk jika saya memaksakan diri untuk berpuasa. Sebelum lebaran datang pun saya memutuskan untuk membayar fidyah terlebih dahulu sebanyak jumlah hari puasa yang saya tinggalkan kepada 2 orang fakir. Selanjutnya, saya akan berpuasa jika usia kandungan sudah cukup besar dan kuat untuk berpuasa lagi.

Mudik 12 Jam

Rute Sampit - Palangkaraya
Rute Sampit - Palangkaraya
Tahun ini akhirnya saya merasakan mudik berdua dengan suami setelah saya diputuskan untuk diboyong ke Sampit dengan sangat mendadak. Seneng rasanya bisa mudik dengan kekasih tercinta. Untungnya kan di Sampit sudah ada bandara yang melayani rute langsung ke Surabaya, meskipun bandaranya kecil yang penting kan tetap memudahkan langkah kami untuk mudik. Sayangnya keinginan tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

Alhamdulillah, Positif

Bismillahirrahmanirrahim...
Pada postingan hari ini ijinkan saya membagi sedikit kabar gembira untuk teman semua. Kabar bahagia tentunya. Selain diberikan rejeki berupa bersatunya saya dengan suami, ternyata Allah yang Maha Pemurah telah memberikan sebuah rejeki besar dalam hidup saya sebagai seorang wanita dan sebagai istri.

Sebelumnya, setelah usia perkawinan menginjak satu bulan ada rasa bungah yang luar biasa saat mengetahui bahwa saya telat datang bulan hingga 5 hari. Namun sayangnya saat saya melakukan tes kehamilan menggunakan tespek, hanya satu garis merah yang terlihat. Dan ternyata saat terlambat mens menginjak enam hari, sorenya saya menstruasi. Sedih dan kecewa rasanya. Nangis sejadi-jadinya di kamar mandi, hihi. Namanya juga pengantin baru pengennya kan langsung hamil gitu kan ya, hehe. Tapi ya namanya rejeki cuma Allah yang tahu. Dan suami pun berkata, "Gak apa, Dek. Nanti bikin lagi." yaaa, oke siap produksi lagi, hehe. Dan setelah pertemuan kami di Sampit selama empat hari di awal Juni, ternyata Allah memberikan jawaban atas semua doa dan usaha kami. Cuma ketemu empat hari jadinya ikhtiarnya sampai lembur-lembur, haha. Saya pun kembali terlambat datang bulan. Ada satu tespek nganggur di lemari, tangan rasanya gatel pengen cepet-cepet tes lagi. Tapi kata suami sebaiknya ditunggu dulu sampai telat mens beberapa hari. Dengan perasaan yang seperti digantung setiap harinya, akhirnya saya memutuskan untuk tespek di hari ke-enam terlambat mens. Dan hasilnya adalah:

hasil tespek telat mens 6 hari
hasil tespek telat mens 6 hari

Adaptasi Lagi

Adaptasi lagi. Baru seminggu saya tinggal di Sampit, tepatnya sih 4 hari selebihnya ikut suami dinas ke Palangkaraya. Biasanya kalau saya berkunjung ke Kalimantan cuma dalam waktu yang singkat, paling lama 4 hari lalu pulang. Tapi hingga sekarang saya masih ada di sini dan saya ingin pulang. Gak krasan? Mungkin bisa dibilang seperti itu. Segala hal yang ada di sini adalah terbaru dalam hidup saya. Adaptasi yang harus saya lakukan benar-benar ekstrim dan bertolak belakang dengan kehidupan saya empat tahun terakhir ini. Setelah berkelut dengan kehidupan yang penuh dengan hingar bingar harus berubah drastis menjadi orang pedalaman. Biasanya melihat lampu berpendar di mana pun mata terbuka, kini hanya bisa melihat lampu jika ada di dalam rumah. Saya menjadi drama queen setiap harinya, tidak cocok ini dan itu, tidak suka ini dan itu. Ingin ini dan itu tapi susah mendapatkannya. Mungkin hari-hari pertama terasa berat untuk semua orang termasuk saya, tapi adaptasi paling baru ini benar-benar berat untuk saya meskipun sudah terbiasa hidup nomaden. Ya, selama ini kan pindah domisili ke tempat yang dibilang kota dengan banyak fasilitas, sedang sekarang minim fasilitas. Saya bukan mengeluh, tapi ya sebut saya saya sedang mengeluh lewat tulisan ini. Tapi hanya dengan menulis saya merasa mempunyai teman, karena di sini sangat sulit untuk bergaul. Tetangga hampir semua rekan kerja suami yang notabene belum berkeluarga, jadi tidak ada perempuan di dalamnya. Tidak ada organisasi khusus istri karyawan di rayon yang sekarang. Then, I have no one to share my thought, excluded my husband because all I need is women, haha.

Soal fasilitas memang sangat terbatas, tidak seperti Jakarta. Ya memang tidak bisa dibandingkan. Saya tidak mencari mall tapi paling tidak ada tempat bagi saya untuk berlari saat menggunakan me time. Tempat wisata pun jauh dari kota yang saya tinggali sekarang, harus menempuh puluhan kilometer dan minimal 4 jam hanya untuk pergi ke bioskop. Jadi kalau mau nonton total pulang pergi adalah 8 jam, sediiihhhh. Untungnya, setidaknya ada supermarket besar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga meskipun tempatnya juga lumayan jauh. Dan yang sedikit membuat saya gak krasan lagi adalah adanya rumah sakit yang cuma satu yaitu rumah sakit umum daerah yang konon terbatas peralatan medisnya. Tapi ya semoga sehat terus jadi gak perlu pusing mikir nyari rumah sakit yang bagus. Suhu udara semakin lebih panas daripada di Cikarang. Galau sepanjang hari, itulah yang saya rasakan. Sempat sekali telepon mama dan bilang gak krasan malah kena omel “ikut suami kok gak krasan”, bukan karena ikut suami tapi karena akomodasi. Kalau ada suami mah betah-betah saja seharian di rumah, hehe. Adakah tips dari kalian untuk adaptasi di tempat sunyi seperti saya? Bagi dong, butuh advice dari banyak pihak. Terima kasih.

Bagasi Pesawat 100 Kilo

Setelah diputuskan harus mengundurkan diri dari Samsung dan diputuskan pula untuk segera pindah ke Sampit oleh sang suami, maka hal yang harus dipikirkan dan ditindak lanjuti dengan cepat adalah membereskan semua barang yang ada di dalam kamar petak alis kos yang nyatanya begitu banyak. Padahal saya keluar rumah sakit tanggal 29 Juni malam hari dan harus terbang ke Sampit tanggal 1 Juli pagi hari. Puyeng dah gimana caranya bawa barang-barang yang telah saya kumpulkan selama hampir 4 tahun tinggal di Cikarang. Sedikit untung karena saya sudah nyetok 4 kardus besar hasil jarah dari kantor, hehe. Malam itu juga setelah keluar rumah sakit, kami berangkat ke kosan saya dan mulai mengepak barang-barang yang sekiranya bisa di bawa ke Sampit, padahal menurut saya, barang-barang itu harus dibawa semuanya, huhu. Suami pun gak mau kalah dan gak mau repot dengan harus membawa begitu banyak barang kenangan saya. Sempat eyel-eyelan dulu mana yang mau ditinggal.

Satu kardus dan satu koper besar telah terisi oleh baju, baju, dan baju, dan jilbab. Ya gimana ya, namanya juga perempuan, stok baju dan jilbabnya pasti banyak walopun saya selalu berkata baju dan jilbabnya kurang. Ada beberapa potong baju dan jilbab yang saya tinggal yang sekiranya tidak akan saya gunakan lagi, ya ditinggal begitu saja di dalam kardus, biarkan asisten kosan yang mengurusi mau dibuang ya silahkan, mau diambil ya oke saja. Kardus kedua berisi alat elektronik seperti blender, mixer, dan magic com, ada juga 3 paket gelas yang saya dapatkan secara gratis. Membawa alat elektronik memang sedikit berisiko, takut pecah atau penyok jika dipaketkan dan hanya dibungkus kardus biasa. Kalo mau ditinggal kan ya tidak mungkin, karena alat-alat tersebut bagai nyawa untuk saya, haha. Sebelumnya saya memang sering kirim-kirim alat elektronik dengan berbagai macam pengiriman, kirim televisi dari Cikarang ke Lamongan menggunakan salah satu jasa pengiriman sebut saja je-en-e yang Alhamdulillah aman karena diproteksi dengan kayu. Pernah juga membawa televisi dan oven via bagasi pesawat hanya dengan dilapisi buble wrap di dalamnya. Akhirnya saya pun pede dengan tatanan alat elektronik di dalam kardus, daripada ditinggal. Saya bokk, alat rumah tangga begitu.

Leaving For Good

samsung electronics indonesia
foto terakhir, Software R&D, Samsung Electronics Indonesia
I am leaving for good, for a better future, for a better life, for a better responsibilities. Ada beberapa orang dan rekan yang bertanya tentang postingan saya beberapa hari lalu yang berjudul Seminggu. Mereka bertanya kemungkinan saya berpindah tempat kerja atau bisa dibilang resign. Ya, tepat sekali. I was officially resigned from my previous responsibility as a software tester, a part of research and development center, in Samsung Electronics Indonesia yang berada di Cikarang secara resmi 30 Juni 2015. Sebenarnya, saya berencana untuk mengundurkan diri dari software team, Samsung, setelah lebaran usai, maksimal agustus saya sudah cabut dari perusahaan pertama sejak saya lulus kuliah tersebut. Namun karena suatu hal yang sangat besar, akhirnya saya dan seluruh rekan kerja saya di R&D harus mengundurkan diri secara bersama-sama. Untuk alasannya, silahkan penasaran.

Karena harus move on secepatnya, maka tanggal 1 Juli 2015 saya sudah diboyong suami ke Sampit Kalimantan Tengah. Semua serba mendadak memang, harusnya saya tetap pergi ke Sampit setelah lebaran karena harus membereskan segala hal yang harus saya tinggalkan di Cikarang. Ternyata ada nasib lain yaitu saya harus masuk unit gawat darurat sabtu malam lalu dan diharuskan untuk rawat inap. Penyakit yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan yaitu infeksi lambung karena kuman parathypus. Mau tidak mau suami harus terbang ke Jakarta dan memutuskan sekalian memboyong saya untuk tinggal bersama. Akhirnya terbebas sudah dari jeritan long distance relationship selama hampir 4 tahun. Salah satu sisi positif mengundurkan diri dari Samsung.