[Prompt #17] Pak Guru Juga Manusia

Ada yang mengganjal perasaanku hari ini setelah kejadian semalam. Sedari di kelas tadi, aku tak kuasa untuk terus memperhatikannya. Wajahnya memang cantik.

Dengan seragam SMP yang dia kenakan, wajah polosnya terlihat dengan jelas. Tapi dari balik seragamnya itu, dadanya terlihat penuh dan berisi. Sama halnya dengan foto yang membuatku terperangah semalaman. Kaos merah ketat dengan potongan leher yang lebar membuat jantungku tak karuan. Muridku yang satu ini memang cantik, mungkin juga tercantik.

Rasa penasaranku kembali membara. Posisiku duduk di atas kasur lebar ini sudah cukup membuatku nyaman untuk memandangai kecantikan muridku yang satu ini. Otakku semakin segar setelah melihat foto-fotonya yang lain. Gayanya macam-macam, tapi yang membuat aku semakin gusar adalah celana pendek dan kaos kuning tanpa bahu yang dia gunakan saat berfoto di Bali. Segar sekali.

Pikiranku semakin tak karuan. Apa yang telah aku lakukan pada muridku ini. Antara nikmat melihat gadis muda yang sangat cantik dan peranku sebagai seorang pendidik. Ah, malam ini saja, bathinku. Mumpung istriku sedang pengajian, jadi tak ada salahnya aku menyegarkan mata sejenak.

Aku melanjutkan menikmati foto-foto gadis muda cantik, sesekali terlihat fotonya bersama teman sekelasnya yang juga tak kalah cantik. Tapi dia tetap yang tercantik bagiku, tubuhnya juga bagus.

Tak lama kudengar pintu rumah terbuka, mungkin istriku yang baru pulang pengajian. Ya, pengajian. Astaghfirullah. Salah kaprah.

Segera aku mengambil ponsel dan mencari nama Alya di kontakku.

Alya, kalo upload foto di facebook yang sopan ya. Pak Anwar.

Lalu aku menutup akun facebook yang bernama Alya Imoetz dan mematikan laptopku.

******
246 kata

Penjual Online

Selamat malam temans. Setelah seharian saya memberikan perhatian khusus untuk pekerjaan di kantor, sekarang saya ingin sekedar berbagi uneg-uneg yang sedari kemaren nangkring di kepala saya. Hal itu mengenai online shop. Saya tidak akan membahas apa itu online shop, namun ingin sedikit membahas tentang etika dalam berjualan di online shop.

Semakin suksesnya internet merambah semua lapisan masyarakat, maka semakin kreatif pula ide para pebisnis untuk menciptakan toko online. Saya sendiri mempunyai dua online shop yang saat ini masih berjalan, untuk Gendhiss Boutique memang saya tutup sementara waktu karena sedang ada kendala teknis. Dan untuk si nyonya gendhiss alhamdulillah masih berjalan, kok jadi promosi yak :p

Saya akan memberikan pandangan dari segi penjual dalam hal etika yang sudah pernah saya rasakan. Menjual secara online bisa jadi sangat menguntungkan karena penyebaran informasi yang cukup cepat. Namun ada beberapa etika yang patut diperhatikan sebagai penjual online, karena etika tersebut menyangkut  nama baik online shop yang sedang kita kelola dan bisa menarik pembeli yang lebih banyak.
  • Jika berjualan menggunakan blog atau pun media sosial lainnya, usahakan agar blog tersebut mudah untuk diakses. Janganlah terlalu banyak menanam widget sehingga loading time untuk toko online kita menjadi lama. Jika ada barang-barang baru yang dijual, segera di update ke blog atau media lainnya.
  • Lakukan pemasaran yang efektif. Misal melalui jejaring sosial facebook atau twitter. Tapi jangan nyampah (spam) dengan menebar link ke smua teman karena tidak semua orang suka dengan cara berjualan seperti ini, termasuk saya. Perkenalkan online shop kita dengan cara yang sopan.
  • Pastikan media komunikasi yang kita cantumkan pada online shop itu aktif. Misalkan nomer HP, WhatsApp, BBM, atau media sosial. Karena kontak-kontak tersebut yang akan menjaring calon pembeli. Kalo nomernya gak aktif bisa jadi calon pembeli beranggapan online shop kita sudah tutup.
  • Usahakan memberikan respon yang cepat terhadap calon pembeli. At least, jika kita sedang sibuk, cukup jawab dengan singkat namun dengan bahasa yang sopan. Jangan sampai membiarkan calon pembeli menunggu berhari-hari informasi yang tak kunjung diberikan.

[BeraniCerita #16] Suporter Bola

Suporter Bola
credit
Aku tak pernah meminta dengan kehidupan model begini. Apa-apa susah. Bapakku cuma tukang becak, ibuku petani yang setiap hari menggarap ladang kecil berisi sawi. Ya, bisa dipastikan setiap hari yang tersaji di balik tudung di atas meja adalah sawi. Paling keren sebagai lauknya itu sayap ayam, sebulan sekali. Kalau setiap harinya ya tahu tempe atau ikan pindang di goreng renyah.

Aku seorang siswa yang tiap bulan harus telat satu minggu untuk membayar SPP. Tapi bulan ini, egoku sedang diuji. Sebuah peperangan batin yang sangat kuat dan tak bisa aku hindari. Ditambah hasutan teman-temanku yang membuat nafsuku semakin membara.

"Ayolah, Ron. Ini kesempatanmu. Katanya kau seorang Liverpudlian, buktikan dong!"

"Betul, Sob. Bayar SPP dobel bulan depan aja."

"Kalau orang tuaku menanyakan uangnya kemana, aku harus jawab apa?"

"Halaaahhhh.. Bilang aja ada iuran mendadak atau beli buku. Nanti sore kita langsung beli tiketnya, oke?"

Hatiku memanas, hidungku kembang kempis melawan amarah yang ada di dalam diriku sendiri. Kulihat 5 lembar uang lima puluh ribu dan beberapa receh yang sudah lusuh dalam dompet hitamku yang telah memudar. Seketika bayangan tubuh bongkok ibuku yang sedang memanggul sekarung sawi terlintas di hadapanku. Cucuran keringat bapak di kala maghrib pun turut andil mengaduk emosiku.

Dalam hati aku berdo'a.

Tuhan, maafkan aku. Lancarkan rejeki orang tuaku.

*****

Aku sudah nampak mentereng dengan seragam Liverpool KW yang kubeli murah di pasar malam. Masih satu jam lagi sebelum pertandingan dimulai, tapi suasana riuh telah menyemarakkan stadion bola yang megah itu. Lautan merah dimana-mana. Suporter Indonesia dan Liverpool sama-sama berkostum merah, pantas.

Sebuah Alasan

Sak ombo-ombone alas, isih luweh ombo alasane manungso. Ya, kalimat itulah yang sering saya dengar dalam sebuah 'perdebatan' semasa kuliah dulu. Ngomong sama manusia gak akan ada habisnya, ada aja alasan yang muncul untuk sebuah pembelaan. Atau sekedar untuk menjawab sebuah pertanyaan yang agak keblinger. Atau mungkin juga alasan untuk sebuah pilihan.

Asal, alasan itu tak dibuat-buat.

Saya sering dihadapkan dalam sebuah pertanyaan "kenapa?" dalam pilihan yang saya ambil. Kenapa kok gini? Kenapa kok gitu? Kok gak gini saja? Kok gak gitu saja? Nah, ini yang buat pilihan kan saya, kenapa jadi orang lain yang ikut ambil pusing. Dalam sebuah diskusi yang kadang nyentil urusan pribadi, seringnya saya meilipir lebih dulu untuk menghindari perdebatan yang seharusnya tak perlu terjadi. Ya, saya memilih diam.

Untuk sebuah pilihan yang saya ambil, jika ada orang lain yang turut andil berkomentar saya akan dengan tenang mendengarkan omongan mereka. Jika memang keputusan belum saya pilih, maka dengan senang hati saya mendengarkan omongan mereka, kali aja ada benernya dan bermanfaat buat saya. Namun, jika keputusan itu sudah diketok maka saya hanya akan diam menanggapi omongan orang lain. Mungkin cukup memberikan alasan singkat, selebihnya itu urusan saya. Toh, ini pilihan hidup saya yang tidak ada sangkut pautnya dengan orang yang berkomentar tersebut. Apalagi kalo komenya ngece.

Nah, jika ada yang berkomentar dengan agak sedikit nyentil emosi saya, maka yawes gak usah digubris. Orang lain kan bisanya melihat dari luarnya saja, gak bisa menelaah dari dalam. Bahkan, kadang orang terdekat pun belum tentu mengerti. Kalo saya, hanya orang-orang tertentu yang akan tau alasan pasti dalam pilihan saya, dan itu memang orang-orang terpilih. Bukan maksud untuk pilih-pilih teman, tapi pilihan hidup itu gak perlu untuk digembor-gemborkan ke ruang publik. Jadinya gak spesial.

Makanya, jangan suka asal komentar tentang pilihan hidup orang lain. Jatohnya itu gak enak kalo gak tepat komennya. Yang jalani hidup itu saya, kok kamu yang repot.