Ada yang mengganjal perasaanku hari ini setelah kejadian semalam. Sedari di kelas tadi, aku tak kuasa untuk terus memperhatikannya. Wajahnya memang cantik.
Dengan seragam SMP yang dia kenakan, wajah polosnya terlihat dengan jelas. Tapi dari balik seragamnya itu, dadanya terlihat penuh dan berisi. Sama halnya dengan foto yang membuatku terperangah semalaman. Kaos merah ketat dengan potongan leher yang lebar membuat jantungku tak karuan. Muridku yang satu ini memang cantik, mungkin juga tercantik.
Rasa penasaranku kembali membara. Posisiku duduk di atas kasur lebar ini sudah cukup membuatku nyaman untuk memandangai kecantikan muridku yang satu ini. Otakku semakin segar setelah melihat foto-fotonya yang lain. Gayanya macam-macam, tapi yang membuat aku semakin gusar adalah celana pendek dan kaos kuning tanpa bahu yang dia gunakan saat berfoto di Bali. Segar sekali.
Pikiranku semakin tak karuan. Apa yang telah aku lakukan pada muridku ini. Antara nikmat melihat gadis muda yang sangat cantik dan peranku sebagai seorang pendidik. Ah, malam ini saja, bathinku. Mumpung istriku sedang pengajian, jadi tak ada salahnya aku menyegarkan mata sejenak.
Aku melanjutkan menikmati foto-foto gadis muda cantik, sesekali terlihat fotonya bersama teman sekelasnya yang juga tak kalah cantik. Tapi dia tetap yang tercantik bagiku, tubuhnya juga bagus.
Tak lama kudengar pintu rumah terbuka, mungkin istriku yang baru pulang pengajian. Ya, pengajian. Astaghfirullah. Salah kaprah.
Segera aku mengambil ponsel dan mencari nama Alya di kontakku.
Alya, kalo upload foto di facebook yang sopan ya. Pak Anwar.
Lalu aku menutup akun facebook yang bernama Alya Imoetz dan mematikan laptopku.
******
246 kata

