Proses Rekrutmen Schlumberger

Selamat pagi sodara-sodara semua. Long time no see, hehe. Yap, postingan kali ini saya mencoba untuk memberikan sedikit informasi tentang proses seleksi masuk kerja di salah satu perusahaan besar yaitu Schlumberger(slb). Walaupun saya tidak bekerja di slb tapi saya berkesempatan ikut beberapa tahap seleksinya. Dan pada saat itu ada salah seorang yang berkata "kok kamu ikut tes kerja lagi? bukannya uda kerja ya?" memang saya sudah bekerja, tapi kalo boleh jujur, bekerja di slb adalah salah satu impian saya setelah lulus dan akhirnya saya berlari untuk mengejar mimpi itu. Dan karena ada beberapa teman yang bertanya tentang tahap-tahap seleksinya maka lebih baik saya menulisnya di sini, agar teman yang lain yang mungkin ingin kerja di slb juga mendapat gambaran bentuk tesnya.

Waktu itu saya mengikuti semacam job fair yang diadakan oleh ITB di gedung Sabuga. Dari banyaknya perusahaan yang ada, saya apply di boothnya slb. Tidak perlu bawa dokumen macem-macem sih, syaratnya cuma lulusan dari engineering dan science dan mengisi formulir di boothnya slb. Hari senin pagi saya mendapat sms untuk mengikuti tes yang bertempat di Polban, akhirnya malam itu juga saya dan teman saya berangkat ke bandung sepulang kerja naek motor selama 4 jam -__-

Untuk tahap-tahap tesnya adalah sebagai berikut:

Menentukan Pilihan

Dalam kehidupan, setiap manusia akan selalu dihadapkan pada berbagai macam pilihan. Entah itu hanya sekedar milih memakai baju apa hingga pilihan yang lebih kompleks lagi. Setiap pilihan pasti akan ada konsekuensinya masing-masing. Entah itu baik atau buruk untuk kedepannya. Apalagi jika pilihan tersebut menyangkut masa depan kita, pastilah akan ada berbagai macam opini pertimbangan untuk menjadikannya nyata. Ya, itu yang saya rasakan saat ini. Dihadapkan dengan kondisi dimana saya harus memilih. Ini mengenai mimpi dan cita-cita, harapan dan cinta. Cita-cita yang selama ini sudah saya apungkan di kening saya. Mimpi yang tinggal sejengkal lagi untuk menjadi nyata. Ahh, mungkin benar apa kata orang kalau mimpi itu bisa berubah sesuai dengan berubahnya waktu dan kondisi di sekitar kita. Bagaimana tidak? Mimpi yang tinggal selangkah lagi saya akan mendapatkannya tapi saya harus membiarkannya berlalu. Mimpi yang telah saya perjuangkan tahap demi tahap dengan begitu banyak pengorbanan. Ya, saya masih sangat ingat malam itu saya harus berangkat ke suatu kota untuk memulai membuka jalan demi mimpi itu. Dua hari berjuang untuk mendapatkan 'golden ticket' dan akhirnya saya dapat, saya berhasil melalui 4 proses menyeramkan itu. Dan menunggu untuk bisa masuk ke jalan selanjutnya. Dan ternyata saya kembali mendapatkannya. Gerbang menuju mimpi itu semakin terbuka lebar. Saya senang, saya bangga dengan semua proses ini. Tapi saya memilih untuk tidak meraihnya. Saya menolak mimpi yang telah saya perjuangkan. Ah, sungguh menyedihkan jika alasan itu karena 'aku tidak cukup sehat untuk mendapatkannya'. Saya tidak akan mengeluh dengan kondisi seperti ini. Saya tidak akan menyalahkan siapapun karena saya tidak bisa melangkah maju lagi. Ini adalah kehendak Tuhan yang diberikan kepada saya. Sedih, memang. Galau, apalagi. Tapi cukup sampai di sini saja kesedihan dan kegalauan itu ada. Maka dengan berjuta perasaan hancur saya memang harus melepaskannya. Cukup bersyukur kepada Tuhan dengan segala macam proses yang telah saya lalui untuk membuka gerbang mimpi itu. Saya yakin, dengan kondisi yang seperti ini saya pasti mampu membuka gerbang mimpi yang lainnya. Saya pasti bisa mendapatkan 'golden ticket' untuk mimpi-mimpi besar yang lain. Dan, sekarang adalah saatnya saya berkata "selamat tinggal SLB, proud to see you".

[Review] Daun Yang Jatuh Tak Pernah membenci Angin

sumber gambar
Hai haiii taman blogger, How are you todayyyy??? Tetep semangat kan?? Mari selalu semangat dan menyebarkan energi positif untuk sesama :)

Let's... Saatnya saya mereview buku karangan Tere Liye. Sebenernya buku ini sudah selsai saya baca 3 bulan yang lalu, tapi saya lupa untuk menulis ulang dalam blog tercintah ini *alasan* hehe. Awal saya membeli buku ini karena saya tertarik dengan judunya yang unik "Daun Yang Jatuh Tak Pernah membenci Angin". Suatu konotasi yang unik menurut saya. Dengan bergenre romance remaja dan dengan kalimat-kalimat yang seperti biasa selalu menghipnotis untuk tidak mengalihkan pnadangan mata dari buku, hehe. Buku terbitan Gramedia ini tidak terlalu tebal dari novel sebelumnya yang saya baca yaitu Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Tapi, menurut saya pribadi novel ini lebih tepat dinikmati oleh kaum remaja yang sedang kasmaran, hehe

Novel ini bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga yang sangat miskin. Seorang ibu dengan dua orang anak yang sudah menanggalkan harapan bersekolah. Hingga akhirnya datanglah seorang malaikat yang memberikan sejuta impian terhadap mereka.

Random in Cikarang

Sudah lebih dari satu tahun saya tinggal di kota kecil ini, Cikarang. Tapi saya belum pernah menceritakan kondisi sekitar, hehe. Dan sekarang waktunya saya berbagi sedikit kisah tentang kota ini. Kota Cikarang adalah kota industri seperti halnya SIER atau PIER. Hampir perusahaan - perusahaan besar ada di sini tumplek blek jadi gak heran kalo tiap pagi dan sore pasti macet dan penuh dengan polusi. Saya sendiri bekerja di salah satu perusahaan milik bangsa Korea, perusahaan yang sekarang punya dominasi pasar yag sangat besar. Perusahaan ini terletak di kawasan industri dan harus melewati jalan utama yaitu Jababeka. Dan di susul dengan jajaran perusahaan besar lainnya yang ada di sini.

Ngomong-ngomong soal polusi, uhh saya sangat membeci polusi dan berbagai macam polutan lainnya tanpa terkecuali asap rokok yang tidak pernah diundang. Karena polutan itulah yang mengakibatkan saya harus nyandu antibiotik selama 6 bulan dan masuk ruang isolasi selama 3 hari. Menyebalkan. Jadi jangan pernah berharap udara bersih di sekitar kawasan industri dan di segala penjuru jalan raya apalagi pangkalan ojek yang selalu memberikan asap rokok dengan gratisan. Dengan suasana yang ramai seperti ini dan didukung dengan sepinya tempat hiburan membuat saya lebih nyaman menikmati liburan di kosan saja. Dan transportasi di dominasi oleh tukang ojek dan menurut saya pangkalan yang paling besar adalah ojek Mitra Polisi yang memang menjadi anak emas dari polisi. Ada juga angkot, yang saya tau dari cikarang baru ke depan perempatan Jababeka 2 ada angkot 99 yang berwarna putih. Jika mau ke daerah Lippo atau Cikarang Lama bisa memakai angkot 33 dan 17. Ada satu terminal yang terletak di Cikarang Lama. Terminalnya kecil tapi lengkap kok kalo mau kemana aja ada busnya. Satu lagi yang sedikit menyenangkan yaitu ada pangkalan bis Damri yang membawa kita ke Bandara Soetta dengan tarif 35rb. Sangat memudahkan bagi saya.