Awal Mei ini saya ambil cuti dari kantor untuk liburan. Hmm, mungkin karena saya cuti dan pergi ke luar kota (ke luar pulau lebih tepatnya), orang akan beranggapan saya sedang liburan. Tapi sebenarnya tidak, sih. Karena kepergian saya ke Lampung membawa misi khusus. Jika kalian pernah membaca postingan saya tentang hubungan saya dengan Babeh, maka inilah misi khusus yang saya bawa ke Lampung. Memperbaiki atau sekedar ingin bertemu dengan babeh saya yang sudah lebih dari 4 tahun tak pernah berkabar.
Cerita ini saya mulai dari menentukan jalur transportasi yang akan saya gunakan menuju Lampung. Awalnya saya gethol sekali untuk menggunakan jalur darat dan laut dengan menumpang bis damri yang berangkat dari terminal Gambir, Jakarta dengan alasan karena pengen merasakan naik kapal dan menyebrangi lautan, hehe. Pun sudah telepon petugas loket yang ada di Gambir, sayangnya mereka tidak melayani pembelian tiket melaui telepon. Sedang waktu untuk ke Gambir dari Cikarang pun rada susah. Sudah pula mencari travel mobil tapi akan lebih lama karena Cikarang adalah titik penjemputan pertama. Dan terpikirlah untuk ngeteng, hahah. Selain menekan biaya dengan drastis yang pasti akan lebih seru. Eh tapi, menurut saran dari beberapa teman, karena ini kali pertama saya ke Lampung, lebih aman untuk naik pesawat. Akhirnya deal untuk membeli tiket pesawat dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
- Lebih cepat, lebih aman, dan lebih nyaman. Pastilah lebih cepat, karena hanya mengudara selama 35-40 menit saja termasuk take off dan landing, dan jarak dari kos ke bandara cuma 1,5 jam. Yup, ini adalah penerbangan yang paling singkat yang pernah saya rasakan. Begitu masuk pesawat dan siap berangkat, FA sudah memperagakan tata cara keselamatan. Setelah lepas landas selesai (percayalah bahwa proses take off cuma sebentar saja), FA langsung membagikan snack, selang 5 menit langsung mengambil sampahnya (belum sempet tak makan). Belum juga saya merasakan ngantuk, pilot sudah mengudarakan untuk landing. Nah, berbeda kalo menggunakan jalur darat dan laut, minimal 12 jam perjalanan, menyebrang dengan Ferry saja minimal 8 jam (kalo Ferry udah langsung berangkat tanpa delay lagi). Soal keamanan dan kenyamanan mungkin tergantung pribadi masing-masing, karena saya memang tak kuat jika harus duduk berlama-lama di dalam kendaran. Dijamin maboknya luar biasa.

