Dalam hidupku, inilah kali pertama aku menulis surat untukmu. Mungkin, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah menulis satu. Ah, tapi aku sudah tak bisa mengingat apakah aku memang pernah merangkai kata demi kata khusus untukmu. Walaupun surat ini aku tulis karena suatu maksud, tapi aku akan menulisnya dari dalam hatiku sendiri, dari apa yang aku rasakan, dari apa yang telah engkau berikan. Bukan riset. Maka ijinkanlah anakmu menyampaikan cinta yang tak sebanding dengan cintamu.
My Mama, masih ingatkah kau dengan berbagai macam panggilan yang aku berikan padamu karena satu sikap protesku atas semua kesibukanmu? Tante, bulek, bahkan mbak adalah panggilan yang sudah tak asing bagimu dari mulut anak gadismu yang penuh dengan rasa protes ini. Ya, saat itu aku sangat protes karena aku iri dengan semua teman-temanku yang bisa bertemu dengan ibunya setiap hari sesuka mereka. Bagaimana bisa aku memanggilmu ibu jika kita tak bertemu setiap hari? Bagaimana bisa seorang ibu hanya menemui anaknya sebulan sekali? Itulah yang ada dipikiranku saat itu. Saat aku sudah bisa merasakan iri, saat aku sudah bisa merasakan sepinya tanpa ibu. Ah, dan ternyata panggilan seperti itu masih aku berikan hingga sekarang meski penuh dengan nada candaan. How cruel I am.
Anak gadismu memang pandai berdiplomasi, protes sana sini jika ada yang tak pas di hati. Yang aku tahu, yang aku mau harus kau wujudkan. Entah sifat ini turunan dari siapa. Apakah sifat ini juga milikmu, Mi?