Lomba Blog Wardah

Jadi gini ceritanya, saya lagi ikut lomba blog wardah. Dan ikutnya memang selalu niat seperti taun sebelumnya. Niat pake banget karena saya lebih memilih dandan ulang dan mengambil foto lagi daripada memberikan foto lama. Biar fresh aja sih maksudnya.

Berikut adalah beberapa foto yang saya sertakan dalam postingan yang berjudul Kosmetik Halal Membawa Berkah pada blogdetik saya.

office look

[Review] ibuk,

credit
Judul : ibuk,
Penulis : Iwan Setyawan
Penerbit : Gramedia Pustaka
Tahun : Juni, 2012
Tebal buku : 293 halaman
ISBN : 978-979-22-8568-0

"Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat." -Ibuk-

Buku ini adalah novel dari penulis best seller Iwan Setiawan. Terus terang saja, saya membeli buku ini karena sampul depan yang begitu menarik. Sebuah kombinasi seorang perempuan dengan segala kesederhanaan dan bergaya kuno. Dalam pikiran saya melayang bahwa buku ini akan bercerita tentang wanita desa. Dan benar saja.

Buku ini menceritakan sebuah kisah perjalanan seorang gadis belia bernama Tinah yang harus putus sekolah dan membantu neneknya berjualan baju bekas di pasar. Seperti kisah remaja lainnya, ada kisah cinta yang akhirnya mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot yang dijuluki playboy pasar berpenampilan ala kadarnya dengan sandal jepit dan berambut klimis berani 'apel' ke rumah nenek Tinah. Sebuah tanda setuju atas lamaran Sim pun mengubah dunia Tinah. Mereka adalah ibuk dan bapak.

Dear Mami


Dalam hidupku, inilah kali pertama aku menulis surat untukmu. Mungkin, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah menulis satu. Ah, tapi aku sudah tak bisa mengingat apakah aku memang pernah merangkai kata demi kata khusus untukmu. Walaupun surat ini aku tulis karena suatu maksud, tapi aku akan menulisnya dari dalam hatiku sendiri, dari apa yang aku rasakan, dari apa yang telah engkau berikan. Bukan riset. Maka ijinkanlah anakmu menyampaikan cinta yang tak sebanding dengan cintamu.

My Mama, masih ingatkah kau dengan berbagai macam panggilan yang aku berikan padamu karena satu sikap protesku atas semua kesibukanmu? Tante, bulek, bahkan mbak adalah panggilan yang sudah tak asing bagimu dari mulut anak gadismu yang penuh dengan rasa protes ini. Ya, saat itu aku sangat protes karena aku iri dengan semua teman-temanku yang bisa bertemu dengan ibunya setiap hari sesuka mereka. Bagaimana bisa aku memanggilmu ibu jika kita tak bertemu setiap hari? Bagaimana bisa seorang ibu hanya menemui anaknya sebulan sekali? Itulah yang ada dipikiranku saat itu. Saat aku sudah bisa merasakan iri, saat aku sudah bisa merasakan sepinya tanpa ibu. Ah, dan ternyata panggilan seperti itu masih aku berikan hingga sekarang meski penuh dengan nada candaan. How cruel I am.

Anak gadismu memang pandai berdiplomasi, protes sana sini jika ada yang tak pas di hati. Yang aku tahu, yang aku mau harus kau wujudkan. Entah sifat ini turunan dari siapa. Apakah sifat ini juga milikmu, Mi?

[BeraniCerita #30] Bangku Tunggu Yang Menua

credit
Mentari masih saja malu untuk menampakkan wajahnya pada dunia. Kehangatan masih enggan untuk menyelimuti tubuh yang sudah kepalang dingin oleh embun pagi dan mendung yang tak kunjung pergi. Dengan mantap kujejakkan kakiku setapak demi setapak menuju deretan bangku tunggu yang terlanjur menua. Di sudut peron itu, seperti biasa, tempatku menunggu.

Perjalanan ini adalah kisah yang kutitipkan pada gerbong kereta yang dengan patuh mengikuti kemana lokomotif berarah. Perjalanan ini akan berhenti ketika peluit menjerit memekakkan telinga, untuk sementara. Dan akan berlanjut saat peluit itu kembali bersautan tanpa henti.