Pelabuhan Sungai Mentaya, Sampit

Sampit, Kalteng
sumber
Hampir kebanyakan orang yang ditanya tentang kota Sampit pasti akan teringat dengan kisah masa lalu di tahun 90an. Kisah yang sebaiknya menjadi salah satu sejarah yang harus kita jaga tanpa harus diungkit lagi. Awalnya saya juga agak merinding saat tahu bahwa tujuan domisi saya selanjutnya adalah kota Sampit. Ada perasaan tidak terima, kenapa dari ratusan kota di Kalimantan, suami harus mendapat tempat dinas di Sampit.

Ada rasa was-was dan takut, tapi setelah mendengar cerita langsung dari suami, rasa takut itu berubah. Semula takut akan kota itu sendiri beserta sejarahnya, sekarang berubah menjadi ketakutan di mana saya tidak bisa menikmati dunia shopping dan hedonisme lainnya, haha. Saya pun bergeriliya di internet untuk mencari tahu tentang kota Sampit. Ternyata kenyataan yang harus saya hadapi adalah kehidupan tanpa bioskop dan mall, hiks. Meskipun saya bukan termasuk orang yang doyan belanja atau plesir tanpa tujuan, setidaknya jika sedang penat, saya bisa langsung pergi ke mana pun saya mau saat di ibukota. Perasaan takut itu terus berkembang hingga akhirnya saya menginjakkan kaki di bumi Sampit dengan menggunakan satu-satunya maskapai yang beroperasi yaitu Kalstar. Bandaranya pun kecil dan jangan pernah dibandingkan dengan bandara di kota mana pun.

H. Asan airport, Sampit, Kalteng
H. Asan airport, Sampit, Kalteng
Sebenarnya ada satu maskapai besar yaitu Garuda Indonesia, sayangnya beroperasi tidak untuk penerbangan langsung, harus transit dulu. Daripada membuang waktu di jalan dan udara, saya memilih penerbangan secara langsung meskipun dengan pesawat yang lebih kecil ukurannya. Tujuan saya ke Sampit, di samping untuk menuntaskan rasa rindu untuk suami, juga untuk melihat secara langsung bagaimana kota Sampit yang sesungguhnya. Sepanjang mata memandang dari atas pesawat, setelah melewati luasnya lautan Jawa, mata disuguhi dengan rimbunnya hutan, setelah itu rapinya perkebunan sawit. Ya, Kalimantan memang pantas disebut sebagai paru-paru dunia, hampir separuh pusat oksigen ada di sini, maka dari itu sebaiknya hutan tersebut kita jaga dengan baik. Jangan ada lagi penebangan liar dan pembakaran lahan secara brutal.

Dari segi tata kota, Sampit termasuk kota yang rapi dan bersih. Hampir tidak melihat sampah menumpuk di jalan raya. Meskipun kotanya kecil, tapi jalanan sudah cukup ramai dengan orang berkendara dan toko-toko yang berjajar dengan rapi. Dan di Sampit suhu cukup panas dan menyengat meski banyak pepohonan. Siap-siap sunblock, ya. Jarang-jarang seorang traveler yang mau menginjakkan kaki di tanah Borneo yang kecil ini, bisa dibilang belum ada orang yang mengeksplor keindahan kota ini. Selama 4 hari di kota ini, saya dan suami berkesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata terbatas salah satunya pelabuhan di sungai Mentaya, Sampit.

Yang namanya pelabuhan biasanya kan di laut, ya, kalau di Sampit pelabuhan ada di sungai. Jangan membayangkan sungai yang kecil untuk mancing ikan, tapi bayangkanlah sungai yang sangat luas dan panjang. Karena letak geografis Sampit yang dekat dengan laut dan sungai Menyata pun bermura ke laut, maka sungai ini dijadikan pelabuhan yang cukup besar. Kapal-kapal menghubungkan ke antar provinsi di Kalimantan bahkan ke pulau Jawa. Ada beberapa kapal besar yang bersandar di tepi sungai dan ada pula yang berlabuh di tengahnya.

Sungai Mentaya, Sampit Kalteng
Sungai Mentaya, Sampit Kalteng
Pelabuhan Sungai Mentaya, Sampit Kalteng
Pelabuhan Sungai Mentaya, Sampit Kalteng
Pelabuhan Sungai Mentaya, Sampit Kalteng
Prima Samarinda di Sungai Mentaya, Sampit Kalteng
Tidak hanya kapal besar yang bersandar di sungai Mentaya, ada banyak kapal-kapal kecil yang disebut "kelothok" oleh penduduk setempat, ada pula kapal motor. Mereka difungsikan sebagai transportasi utama uang mengubungkan Sampit dengan desa Mentaya Seberang. Untuk menyewa satu perahu sekali berangkat lima puluh ribu, tanpa harus menunggu penuhnya penumpang. Nah perahu yang digunakan adalah perahu motor. Sedangkan untuk transportasi umum dengan harga yang lebih murah yaitu lima ribu saja menggunakan perahu yang lebih besar dan harus menunggu perahu hingga penuh. Jam operasi perahu ini hanya sampai jam 6 sore.
Perahu motor di sungai Mentaya
Perahu motor di sungai Mentaya
Setelah puas berjalan di tepi sungai Mentaya, saya dan suami berjalan ke arah taman kecil yang terdapat patung ikan jelawat, merupakan maskot kota Sampit. Ikan jelawat merupakan ikan khas kota Sampit, teksurnya berduri dengan daging yang empuk dan lembut, paling enak digoreng setengah kering dan dicocol sambel terasi, nyamm. Di sekitar taman, cukup banyak muda mudi dan keluarga yang bersantai menikmati semilir angin. Yang membuat saya takjub adalah kebersihan tempat tersebut, jauh dari sampah yang berserakan. Taman ini terletak persih di sebelah pelabuhan sungai Mentaya, sisinya terpasang pagar jadi cukup mana untuk anak-anak. 

Patung Ikan Jelawat, maskot khas Sampit
Patung Ikan Jelawat, maskot khas Sampit
Pelabuhan Sungai Mentaya, Sampit
Bonus foto dari manten baru yang sedang bulan madu kedua, haha
Sampit memang minim tempat wisata, tapi dengan sedikitnya tempat wisata tersebut menjadikan semua tempat terasa spesial. Daftar tujuan saya dan suami selanjutnya adalah Pantai Ujung Pandaran, danau Sembuluh di mana si mas sudah beberapa kali ke sana untuk dinas, dan Puruk Baru Suli yang menyimpan sejuta misteri. Berkendara di Sampit paling aman menggunakan mobil, karena jaraknya cukup jauh antara satu tempat ke tempat lainnya. Dan saya pun punya sopir pribadi yang siap mengantar ke mana pun saya inginkan, yang tak lain adalah suami sendiri.

Meskipun saya sudah punya SIM A tapi saya belum lihai mengendarai mobil, lho, hehe, Masih grasak grusuk, tapi saya pun punya mobil incaran yang sekarang sedang ramai diperbincangkan yaitu Toyota Agya. Desain mobil yang cantik dan seksi dan berkesan lebih agresif, secara pribadi saya suka dengan warna putih. Fitur interiornya pun tak kalah canggih karena dilengkapi dengan AC yang bisa diatur levelnya sesuai keinginan, didukung dengan audio yang canggih sehingga dipastikan perjalanan kita tak akan membosankan.

Toyota Agya warna putih, mobil impian
Toyota Agya warna putih, mobil impian (sumber)
Untuk keamanan jangan diragukan lagi, Toyota Agya dilengkapi dengan Dual SRS Air Bag, jadi air bag tidak hanya untuk kursi sopir tapi juga kursi di sebelahnya, sedang untuk kursi penumpang yang ada di belakang dilengkapi dengan seatbelt. Di kursi penumpang juga dilengkapi dengan ISOFIX yang memastikan keamanan untuk pemasangan child seat. Aman kalau nanti sudah punya bayi :)
bagasi
bagasi (sumber)
Satu hal penting yang tidak boleh terlewatkan adalah kapasitas bagasi, Toyota Agya memiliki kapasitas yang luas sehingga untuk liburan yang cukup jauh dengan bagasi yang cukup banyak tetap bisa terangkut tanpa perlu kuatir tidak cukup. Apalagi dalam waktu dekat ini banyak orang yang mudik untuk lebaran, dipastikan barang bawaan sangat banyak sekali, belum lagi nanti oleh-oleh selepas mudik. Dengan bagasi yang luas dari Toyota Agya, saya pun tak kuatir untuk belanja oleh-oleh sebanyak mungkin,maklum emak-emak.

Bonus foto suami lagi nyupir
Bonus foto suami lagi nyupir :)

4 comments:

  1. Belum pernah main ke IBT. Doain ya :D

    ReplyDelete
  2. begitu masuk postingan ini, langsung di suguhi foto yg menurut saya indah :) Tinggal di Sampit bisa membersihkan paru2 juga ya mak... karena udaranya pastinya masih segar karena banyak hutan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbakk,, tp suhunya lumayan panas krn sudah banyak lahan sawit

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^